1. Seonggok Jagung

    Seonggok jagung di kamar

    dan seorang pemuda

    yang kurang sekolahan

    Memandang jagung itu,

    sang pemuda melihat ladang;

    Ia melihat petani;

    Ia melihat panen;

    dan suatu hari subuh,

    para wanita dengan gendongan

    pergi ke pasar…

    Dan ia juga melihat

    suatu pagi hari

    di dekat sumur

    gadis-gadis bercanda

    sambil menumbuk jagung

    menjadi maisena.

    Sedang di dalam dapur

    tungku-tungku menyala.

    Di dalam udara murni

    tercium bau kue jagung.

    Seonggok jagung di kamar

    dan seorang pemuda.

    Ia siap menggarap jagung.

    Ia melihat kemungkinan

    otak dan tangan

    siap bekerja

    Tetapi ini:

    Seonggok jagung di kamar

    dan seorang pemuda tamat SLA

    Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

    Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

    Ia memandang jagung itu

    dan ia melihat dirinya terlunta-lunta

    Ia melihat dirinya ditendang dari diskotik.

    Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik

    etalase ia melihat saingannya naik sepeda motor.

    Ia melihat nomor-nomor lotre.

    ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.

    Seonggok jagung di kamar

    tidak menyangkut pada akal,

    tidak akan menolongnya.

    Seonggok jagung di kamar

    tak akan menolong seorang pemuda

    yang pandangan hidupnya berasal dari buku,

    dan tidak dari kehidupan.

    Yang tidak terlatih dalam metode,

    dan hanya penuh hafalan kesimpulan.

    Yang hanya terlatih sebagai pemakai,

    tetapi kurang latihan bebas berkarnya.

    Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupan.

    Aku bertanya:

    Apakah gunanya pendidikan

    bila hanya akan membuat seseorang menjadi

    asing di tengah kenyataan persoalannya?

    Apakah gunanya pendidikan

    bila hanya mendorong seseorang

    menjadi layang-layang di ibukota

    kikuk pulang ke daerahnya?

    Apakah gunanya seseorang

    belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran

    atau apa saja

    bila pada akhirnya

    ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata

    Di sini aku merasa asing dan sepi!

    W.S Rendra