1. Diary

    Pagi ini saya tidak sengaja menemukan diary saya jaman kuliah tingkat 1 sampai 3. Well, diary. Sebenarnya, dibilang diary pun, wujudnya hanyalah buku tulis biasa yang sering dipakai anak sekolah mencatat pelajaran. Dari dulu memang saya tidak pernah pakai buku khusus untuk menulis diary. Demi melihat wujud diary itu, pun hanya berupa buku tulis biasa, saya spontan pasang posisi untuk bernostalgia.
    Saya lihat lagi bagaimana kelakuan saya ketika menjadi mahasiswa baru:
    Masa-masa kangen SMA dan penghuninya.
    Kehidupan akademis, aktivitas kampus.
    Cerita cinta di kampus dan cerita kinky lain yang menyertainya.
    Pengembangan diri.
    Fluktuasi mood dan esteem, masa-masa labil.
    Dan saya melihat —walaupun labil— ada sesuatu yang stabil dan cenderung menetap dalam curhatan saya kala itu. Tentang kamu.  Roller coaster perjalanan saya dan kamu. Tidak selamanya di puncak, malah tidak jarang berada di titik terendah.
    Saya.
    Kamu.
    Bagaimana saya terlonjak dan tergugu karena Selamat Malam dan gitarmu.
    Bagaimana saya sedih karena cerita gadis lain tentang kamu. Kalian mesra.
    Bagaimana kita berusaha mencari alasan atas semuanya.
    Bagaimana akhirnya kita jujur dan mengalah pada diri masing-masing.
    Bagaimana saya rasa kitalah segalanya. Kita adalah ego.
    Juga bagaimana akhirnya kita tidaklah seindah yang saya atau kamu pikir kemarin.
    Saya menyerah. Kamu mundur.
    Bagaimana kamu rasa mungkin pada orang lain kamu temukan setengah dirimu.
     Dan saya yang berjuang sendiri. Menafikkan kamu, sampai sekarang.
    Dan juga betapa saya percaya, saya mengimani
    Walau mungkin tidak lebih dari sekedar klenik; bahwa saya, kamu, atau kita
    akan indah pada waktunya.
    Begitu.
    Itulah tema diary yang saya baca. Saya pun tertawa keras; entah apa yang saya tertawakan karena tawa saya terdengar kosong, bahkan oleh telinga saya sendiri.
    Semoga kepercayaan saya tersebut bukanlah dongeng atau mitologi.
    “If everything has been written down, so why worry?”